tugas embs4317

Kunci jawaban lebih detail, hubungi +62 895-0183-4070

Sementara itu, Arkhelaus Wisnu (32), yang sejak tahun ini mulai menekuni lari, menyiasatinya dengan berburu sepatu merek lokal atau sepatu dengan harga diskon. Ia memiliki dua sepatu lari, satu merek lokal seharga Rp 600.000 dan satu merek luar negeri dengan harga diskon, dari Rp 1,9 juta menjadi Rp 1,1 juta. Baju jersey larinya pun rata-rata di bawah Rp 100.000 dan dibeli saat diskon. ”Jersey lari yang mahal malah saya dapat sebagai kado dari teman-teman yang mendukung hobi lari saya,” ucap Arkhelaus. Sebagai pelari, pengeluaran terbesarnya adalah biaya pendaftaran untuk mengikuti berbagai ajang lari. Saat mendaftar Jakarta Inter Marathon, Arkhelaus mengeluarkan Rp 575.000. Saat mengikuti ajang lari Mandiri Jogja, ia juga mesti menyiapkan uang sekitar Rp 600.000 untuk tiket kereta Jakarta-Yogyakarta-Jakarta. Baginya, pengeluaran ekstra itu investasi demi hidup yang lebih berkualitas. ”Saya lari buat membuktikan kalau fisik saya enggak lemah-lemah banget. Dampaknya enak juga. Badan lebih bugar dan berisi, galau berkurang. Soal duit, ya, nanti cari lagi, ha-ha-ha,” kata Arkhelaus.

Ada permintaan, ada pasokan. Seiring dengan maraknya tren hidup sehat di kalangan urban, beragam peluang baru bisnis terbuka. Muncul komunitas dan pusat kebugaran dengan harga terjangkau yang menjawab macam-macam kebutuhan para pegiat olahraga urban. Salah satunya, The Gym Pod yang menyediakan fasilitas kontainergym privat tanpa syarat minimum keanggotaan bagi orang-orang yang butuh privasi dalam berolahraga. Pengunjung cukup membayar Rp 27.000-Rp 30.000 untuk menyewa satu bilik kontainer plus isinya yang bisa dipakai seorang diri atau maksimal empat orang. Konsep gym ini sepenuhnya dioperasikan secara digital dan otomatis. Mulai dari pemesanan tempat, pembayaran, hingga pemakaiannya dikendalikan melalui aplikasi. Lokasi kontainer gym biasanya memanfaatkan sudut-sudut ruang publik yang tidak terpakai, seperti stasiun MRT, gedung gelanggang olahraga dan lapangan parkir.

Kunci jawaban lebih detail, hubungi +62 895-0183-4070

Chief Technology Officer The Gym Pod Lucius Andi Putra Asikin menuturkan, ide awal berdirinya The Gym Pod dimulai di Singapura, yakni membuka tempat fitness dengan harga terjangkau tanpa syarat minimum keanggotaan hingga berbulan-bulan seperti gym tradisional pada umumnya. ”Intinya, hidup sehat itu enggak perlu mahal dan ribet-ribet daftar membership. Cukup Rp 30.000 sudah bisa start,” katanya. Inisiatif itu dengan cepat menarik ceruk pasar khusus, yakni orang-orang yang butuh privasi saat berolahraga atau mereka yang merasa terintimidasi untuk berolahraga di tempat fitness yang ramai. ”Makanya, sering disebut gym untuk para introvert dan pemula dan demand-nya ternyata cukup besar di Indonesia,” kata Lucius.

Sejak buka di Jakarta pada Januari 2024, The Gym Pod telah memiliki tiga cabang aktif dan akan membuka tiga cabang lain di Jabodetabek. Tingkat okupansinya mencapai 80-90 persen per hari dengan pendapatan kotor per bulan sekitar Rp 30 juta per cabang, yang akan dibagi bersama pemilik lahan atau ruang publik yang dipakai. ”Kalau dibandingkan revenue tempat gym tradisional masih cukup jauh. Namun, dengan cost yang jauh lebih rendah karena fully-automated dan hemat energi, bisnis ini sudah seperti passive-income,” katanya.

Tren hidup sehat juga memunculkan bisnis baru berbasis komunitas, seperti RoccaSpace. Berdiri sejak 2018 di Jakarta dengan banyak komunitas olahraga, RoccaSpace berkembang menjadi ajang promotor olahraga dan telah mempekerjakan lebih dari 70 instruktur olahraga. Total anggota komunitasnya mencapai rata-rata 100.000 orang per kelas. RoccaSpace menyediakan kelas olahraga yang bisa dilakukan beramai-ramai, seperti pound fit, aerobik, zumba, yoga, hingga pilates. Aktivitas komunitas ini umumnya juga memanfaatkan ruang-ruang publik yang tersedia di berbagai kota di Indonesia.

Kunci jawaban lebih detail, hubungi +62 895-0183-4070

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *