Kunci jawaban lebih detail, hubungi +62 895-0183-4070
Laporan ”The Global Wellness Economy: Indonesia” yang dirilis oleh Global Wellness Institute pada 2023 menunjukkan, pasar ekonomi kebugaran di Indonesia telah tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir, khususnya pascapandemi. Perputaran roda ekonomi kebugaran di Indonesia pada 2022 telah mencapai 36,4 miliar dollar AS, menduduki peringkat ke-19 dunia dari total 218 negara serta ranking ke-7 dari 45 negara di kawasan Asia Pasifik.
Empat subsektor dalam ekonomi kebugaran yang tumbuh paling cepat di Indonesia adalah makanan sehat dan nutrisi (13,9 miliar dollar AS), perawatan diri dan kecantikan (7,6 miliar dollar AS), pengobatan tradisional dan komplementer (5 miliar dollar AS), dan aktivitas fisik atau olahraga (3,2 miliar dollar AS).
Seiring dengan meningkatnya kesadaran hidup sehat di kalangan masyarakat, prospek ekonomi kebugaran di Indonesia diperkirakan terus meroket. Apalagi, dengan bergaungnya tren ini di media sosial dan munculnya fenomena fear of missing out (FOMO) baru untuk berolahraga. ”Justru bagus. Ini FOMO yang baik karena akhirnya orang-orang jadi terdorong hidup lebih sehat,” kata Lucius.
Di tengah gelombang kesadaran akan pentingnya gaya hidup sehat, olahraga lari menjadi semakin meroket sebagai pilihan utama dalam berolahraga. Namun, lebih dari sekadar kebugaran fisik, lari juga menciptakan sebuah fenomena sosial yang menarik perhatian: Fear of Missing Out (FOMO). FOMO, atau rasa takut ketinggalan, tidak hanya terbatas pada tren atau acara sosial. Di dunia olahraga, khususnya lari, FOMO memainkan peran penting dalam memotivasi banyak orang untuk terlibat dan tetap konsisten dalam kegiatan ini khususnya Gen Z.
Media sosial memainkan peran besar dalam memperkuat tren ini. Platform seperti Instagram penuh dengan gambar orang-orang yang menunjukkan kebugaran mereka melalui lari, baik itu di taman kota, lintasan atau bahkan maraton besar. Ini tidak hanya membangkitkan rasa ingin tahu, tetapi juga dorongan untuk bergabung dan melakukan hal serupa.
Kunci jawaban lebih detail, hubungi +62 895-0183-4070
Orang-orang atau influencer di media sosial berbagi cerita tentang pengalaman mereka dalam lari dapat memicu perasaan FOMO pada individu yang belum terlibat secara aktif. Foto-foto mereka menyeberangi garis finish atau berbagi pencapaian kilometer yang telah ditempuh seringkali menjadi inspirasi bagi orang lain untuk ikut serta.
Meskipun dinyatakan FOMO dalam olahraga dianggap positif, namun terdapat bahaya yang mengancam. Salah satu bahaya utama FOMO dalam olahraga adalah mendorong seseorang untuk berlatih di luar batas kemampuan diri. FOMO dapat mendorong seseorang untuk mengabaikan batasan fisiknya dan terlibat dalam latihan yang lebih intens atau berdurasi lebih lama dari yang seharusnya. Hal ini dapat meningkatkan risiko cedera dan stres pada jantung. Selain itu, overtraining dapat mengakibatkan cedera serius, termasuk cedera otot, ligamen, dan bahkan kerusakan jangka panjang pada tubuh.
Bahkan akhir-akhir ini muncul fenomena joki Strava. Jasa “joki Strava” mengacu pada layanan berbayar untuk melakukan aktivitas lari menggantikan orang lain, tetapi menggunakan akun Strava milik pemesan. Fenomena ini menjadi topik perbincangan hangat di kalangan warganet karena sebagian orang merasa bahwa layanan semacam ini mendukung keinginan berlebihan seseorang untuk mendapatkan validasi dan pujian. Mereka beranggapan bahwa menggunakan jasa joki untuk aktivitas lari menipu dan tidak jujur, karena pencapaian yang ditampilkan di akun Strava sebenarnya bukan milik orang tersebut, melainkan hasil dari usaha orang lain yang dibayar.
Sumber: Diolah dari berbagai sumber
Baca kasus di atas secara mendalam, kemudian jawab pertanyaan-pertanyaan berikut dengan argumentasi yang kuat dan didukung oleh konsep, teori atau referensi yang relevan. Jawaban disusun secara analitis dan mengacu pada kasus di atas.
Kunci jawaban lebih detail, hubungi +62 895-0183-4070