Kunci jawaban lebih detail, hubungi +62 895-0183-4070
Studi Kasus: Integrasi Sistem Pariwisata di Destinasi Super Prioritas Mandalika, Lombok
Kawasan Mandalika di Nusa Tenggara Barat telah ditetapkan sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP). Transformasi kawasan ini sangat masif, mulai dari pembangunan Sirkuit Internasional Pertamina Mandalika, pengembangan desa wisata berbasis budaya Sasak (seperti Desa Sade dan Desa Ende), hingga promosi besar-besaran di kancah internasional melalui ajang balap dunia (MotoGP dan WSBK).
Namun, kesuksesan Mandalika sebagai sebuah sistem sangat bergantung pada sinkronisasi antara ketersediaan fasilitas di lokasi, cara destinasi tersebut dipasarkan, minat wisatawan untuk datang, serta kemudahan akses transportasi dari luar wilayah menuju Lombok. Jika salah satu komponen ini tidak berfungsi optimal, maka roda sistem pariwisata akan terhambat.
Pertanyaan Tugas:
Berdasarkan studi kasus Mandalika tersebut, analisislah interaksi antar-komponen dalam sistem pariwisata dengan mempolakan 4 komponen berikut secara terstruktur:
1. Destinasi Pariwisata: Uraikan apa saja yang menjadi daya tarik utama (produk wisata) di Mandalika, baik secara fisik maupun non-fisik!
2. Pemasaran Pariwisata: Jelaskan strategi yang digunakan untuk membangun citra (branding) Mandalika di tingkat global dan nasional!
3. Permintaan Pariwisata: Analisislah profil atau karakteristik wisatawan yang tertarik mengunjungi Mandalika. Apakah terjadi pergeseran segmentasi pasar sejak adanya sirkuit balap?
4. Perjalanan Pariwisata: Jelaskan bagaimana pola pergerakan wisatawan dari daerah asal menuju Mandalika dan pentingnya konektivitas infrastruktur dalam komponen ini!
Mahasiswa diperbolehkan mencari referensi dari berbagai sumber dan wajib mencantumkan sumber referensinya.
Studi Kasus: Optimalisasi Potensi Wisata Bahari dalam Bingkai Negara Kepulauan
Indonesia merupakan negara kepulauan (archipelagic state) terbesar di dunia yang terletak di antara dua samudera dan dua benua. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki tantangan sekaligus peluang besar dalam mengembangkan pariwisata bahari. Saat ini, pemerintah gencar mempromosikan visi “Poros Maritim Dunia” dan ekonomi biru (blue economy). Namun, pengembangan pariwisata di wilayah kepulauan tidaklah mudah karena adanya keterbatasan aksesibilitas, kerentanan ekosistem pesisir, dan perbedaan karakter geografis antarwilayah (misalnya perbedaan karakter antara wisata di Kepulauan Riau dengan Raja Ampat).
Untuk menjawab tantangan tersebut, diperlukan pendekatan strategis yang terangkum dalam konsep Astha Tarani (delapan pilar pembangunan maritim).
Pertanyaan Tugas:
Berdasarkan konteks di atas, analisislah karakter pariwisata Indonesia dengan menjawab poin-poin berikut secara kritis dan terstruktur:
1. Karakteristik Wilayah Kepulauan: Jelaskan apa saja ciri khas atau karakteristik unik pariwisata di wilayah kepulauan yang membedakannya dengan pariwisata di daratan utama (mainland)! (Hubungkan dengan isu aksesibilitas dan ekosistem).
2. Strategi Kebhinekaan Geografi (Astha Tarani 1): Bagaimana posisi strategis Indonesia dapat dimanfaatkan untuk mengelola pariwisata yang berbasis pada “Kebhinekaan Wilayah Geografi”? Mengapa kita tidak bisa menerapkan satu model pembangunan yang sama (uniform) untuk seluruh pulau di Indonesia?
3. Tata Ruang Laut dan Ekoregion (Astha Tarani 2): Mengapa kebijakan tata ruang laut nasional sangat krusial dalam mengelola sumber daya maritim untuk pariwisata berkelanjutan? Berikan penjelasan berdasarkan konsep ekoregion laut!
4. Poros Maritim dan Konektivitas Kawasan (Astha Tarani 3): Bagaimana rencana ruang Poros Maritim Dunia dapat diekspansi dalam skala kawasan antarnegara (misalnya kerja sama dengan negara tetangga) untuk memperkuat posisi pariwisata Indonesia di mata internasional?
Mahasiswa diperbolehkan mencari referensi dari berbagai sumber dan wajib mencantumkan sumber referensinya.
Kunci jawaban lebih detail, hubungi +62 895-0183-4070
Kunci jawaban lebih detail, hubungi +62 895-0183-4070