Kunci jawaban lebih detail, hubungi +62 895-0183-4070
FENOMENA JOB HUGGING:
KETIKA RASA AMAN TAK LAGI NYAMAN
Selama empat tahun bekerja di sebuah startup teknologi di Jakarta, Dita merasakan perubahan besar dalam lingkungan kerjanya. Awalnya penuh semangat dan ide segar, namun sejak pandemi suasana itu perlahan memudar. Restrukturisasi berulang kali membuat divisi digabung, proyek dihentikan, dan banyak rekan kerja meninggalkan perusahaan, baik karena pemutusan hubungan kerja maupun memilih mundur lebih dulu.
Dita tetap bertahan meski beban kerja semakin berat dan manfaat yang diterima tidak sebanding. Ia ingin pindah, tetapi kondisi pasar kerja yang sulit membuatnya ragu. Kesempatan berkembang di perusahaan pun semakin terbatas: rotasi jabatan jarang, proyek baru berkurang, dan promosi hampir tidak ada.
Fenomena seperti yang dialami Dita dikenal sebagai job hugging, yaitu kecenderungan pekerja bertahan pada pekerjaan yang dianggap aman secara finansial meski tidak lagi memberi ruang untuk berkembang. Laporan LinkedIn Workforce (2024) menunjukkan 58% pekerja di Asia Tenggara ragu pindah kerja karena khawatir tidak menemukan peluang yang lebih baik. Di Indonesia, riset Katadata Insight Center mengungkap tiga dari lima pekerja merasa karier mereka stagnan, tetapi tetap bertahan karena kondisi ekonomi tidak menentu.
Kunci jawaban lebih detail, hubungi +62 895-0183-4070
Psikolog klinis Wayan Kesawa menjelaskan bahwa job hugging mencerminkan dilema antara kebutuhan akan rasa aman dan keinginan untuk tumbuh. Ketakutan bukan hanya kehilangan pendapatan, tetapi juga identitas profesional yang telah dibangun. Tekanan ekonomi, inflasi, dan biaya hidup yang meningkat membuat banyak orang lebih memilih stabilitas dibandingkan mengambil risiko. Akibatnya, rasa aman yang semula menenangkan justru berubah menjadi jebakan, karena pekerja menunda langkah bukan karena nyaman, melainkan karena takut menghadapi ketidakpastian.
(Sumber: https://www.dw.com/id/dilema-pekerja-di-tengah-fenomena-job-hugging/a-74309906 )
Pertanyaan
Fenomena job hugging menggambarkan kondisi ketika seorang pekerja memilih bertahan pada pekerjaan yang dianggap aman secara finansial, meskipun pekerjaan tersebut tidak lagi memberikan ruang untuk berkembang.
Berdasarkan kasus di atas Saudara diminta untuk :
1. Menjelaskan apa yang dimaksud dengan Job hughing.
2. Berdasarkan hierarki kebutuhan Maslow, pada level kebutuhan manakah fenomena job hugging dapat dikategorikan? Sebutkan dan jelaskan alasannya!
3. Jika akhirnya Dita memutuskan pindah ke tempat kerja lain yang memberikan kesempatan untuk mengembangkan potensi dan berkontribusi lebih luas, menurut Maslow kebutuhan apa yang ingin dipenuhi oleh Dita?
4. Apabila seorang karyawan bekerja semata-mata untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, menurut Maslow ia berada pada level kebutuhan yang mana? Jelaskan!
Kunci jawaban lebih detail, hubungi +62 895-0183-4070