bahasa indonesia

Kunci jawaban lebih detail, hubungi +62 895-0183-4070

Memiliki banyak kekayaan merupakan impian setiap orang. Berdasarkan sumber keberadaannya kekayaan (materi) berasal dari dua sumber yaitu berasal dari: (1) warisan/peninggalan/pemberian dan (2) kekayaan yang dicari dengan segala daya. Indonesia sebagai sebuah negara kepulauan memiliki keduanya.
Kekayaan  negara  yang  berupa  warisan  adalah kekayaan alam berupa tambang, kayu, air, flora dan fauna,  beserta  jumlah  penduduknya.  Kekayaan tersebut diberikan Sang Maha Pencipta yang Pengasih dan penyanyang kepada setiap makhluknya.
Indonesia memiliki ribuan pulau dengan jumlah suku bangsa sekitar 1340. Jumlah tersebut merupakan jumlah suku bangsa terbesar kedua di dunia setelah India (liputan6.com). Dari 1340 suku bangsa tersebut terdapat 718 bahasa lokal/daerah. Besarnya jumlah bahasa daerah ini juga menduduki nomor 2 terbesar di dunia setelah Papua Nugini. Nabila Oudri menyitir 718 bahasa daerah di Indonesia sebagian besar kondisinya terancam punah dan kritis. Secara rinci ditulis bahwa 25 dari 718 terancam punah, enam kritis, dan 11 bahasa sudah dinyatakan punah (itjen.kemendikbud.go.id).
Data di atas merupakan gambaran yang seharusnya membuat bangsa ini prihatin terhadap kondisi kekayaan bahasa daerah kita. Berikutnya yang perlu kita waspadai yaitu akan terkikisnya kekayaan intelektual Indonesia yang lahir bersama bahasa dan tata krama masyarakat setempat. Apa itu? Satu dari sekian banyak kekayaan intelektual yakni peribahasa, termasuk di dalamnya pepatah, bidal, pemeo, tamsil, dan kalimat-kalimat perumpamaan lain.
KBBI (kamus besar bahasa Indonesia); peribahasa adalah ungkapan atau kalimat ringkas padat, berisi perbandingan, perumpamaan, nasihat, prinsip hidup atau aturan tingkah laku. Yudhistira, Lenin, dan Irawan (2022: 44-45) mengutip beberapa sumber; Peribahasa berupa rumusan dari kebijakan masyarakat yang menunjukkan adanya sifat waspada lan eling yang berkaitan dengan moral dan kebajikan hidup yang sangat berguna untuk menghadapi hidup dan kehidupan. Selain itu, peribahasa juga dapat menjadi sarana untuk mengungkapkan isi batinnya dan sebagai penanda nilai luhur budaya. Dari sumber tersebut diketahui bahwa di dalam peribahasa terkandung nasihat, teguran, atau sindiran halus. Hal tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tempo dulu yang konon katanya 
kebanyakan tidak pernah duduk di bangku sekolah, namun memiliki cara berbahasa yang sangat santun. Mereka berkomunikasi dengan tujuan memberi tahu, mengingatkan, atau menegur menggunakan kata-kata indah dan menjalinnya menjadi kalimat-kalimat sangat halus. Berikut beberapa contoh peribahasa yang secara tidak langsung mengajak lawan bicara mau mengintrospeksi diri, mengubah perilaku menjadi lebih baik antara lain sebagai berikut.
Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak. Artinya, kesalahan atau kekurangan orang lain yang sangat kecil kelihatan, kesalahan atau kekurangan sendiri yang sangat besar tidak kelihatan.
Digenggam takut mati, dilepas takut terbang. Artinya, berada dalam keadaan sulit (serba salah).
 
1) Berdasarkan artikel di atas, jawablah pertanyaan berikut!
1. Tuliskankah judul artikel yang tepat untuk tulisan/naskah tersebut!
2. Temukankah dan beri tanda (warnai) bagian-bagian tulisan yang merupakan kutipan!
3. Perbaikilah penulisan kutipan yang ditulis secara tidak tepat!
2) Buat/susun daftar pustaka berdasarkan kutipan tersebut dengan benar!
 3) Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut!
1. Bagaimana keadaan bahasa daerah kita (Indonesia) berdasarkan isi teks tersebut?
2. Tuliskan peribahasa yang Saudara ketahui selain peribahasa yang terdapat di dalam modul!

Kunci jawaban lebih detail, hubungi +62 895-0183-4070

Kunci jawaban lebih detail, hubungi +62 895-0183-4070

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *